Aqiqah Anak Dewasa: Bolehkah dan Bagaimana Caranya?

Aqiqah Anak Dewasa: Bolehkah dan Bagaimana Caranya?

Aqiqah Anak Dewasa: Bolehkah dan Bagaimana Caranya?

Aqiqah merupakan ibadah sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan dalam Islam sebagai bentuk syukur atas kelahiran seorang anak. Pelaksanaan aqiqah biasanya dilakukan pada hari ketujuh, empat belas, atau dua puluh satu setelah bayi lahir. Namun dalam kenyataannya, banyak keluarga yang belum sempat melaksanakan aqiqah ketika anak masih kecil karena keterbatasan ekonomi, minimnya pengetahuan, atau kondisi lain pada masa lalu. Hal inilah yang memunculkan pertanyaan: apakah aqiqah masih sah dan boleh dilakukan ketika anak sudah dewasa?

Topik ini sering menjadi perbincangan di masyarakat dan bahkan memunculkan beragam pendapat. Karena itu, melalui artikel ini kita akan membahas secara komprehensif tentang hukum, dalil, perbedaan pendapat ulama, dan bagaimana cara melaksanakan aqiqah bagi anak yang sudah tumbuh dewasa.

1. Pengertian Aqiqah dalam Islam

Aqiqah adalah penyembelihan hewan—umumnya kambing atau domba—sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas kelahiran seorang anak. Ibadah ini merupakan salah satu syiar dalam Islam yang memiliki keutamaan besar, baik bagi anak maupun bagi orang tua. Selain sebagai bentuk ketaatan, aqiqah juga menjadi simbol kebahagiaan keluarga sekaligus sarana berbagi rezeki kepada kerabat, tetangga, dan fakir miskin.

Makna aqiqah tidak hanya terkait dengan ritual penyembelihan hewan, tetapi juga mengandung doa agar kelak sang anak menjadi pribadi yang berbakti, saleh atau salihah, dan membawa kebaikan bagi keluarga serta lingkungannya.

2. Hukum Aqiqah Menurut Ulama

Mayoritas ulama dari empat mazhab sepakat bahwa aqiqah merupakan ibadah sunnah muakkadah. Artinya, sangat dianjurkan tetapi tidak diwajibkan. Apabila orang tua melaksanakannya, mereka mendapat pahala, dan jika tidak, maka tidak berdosa. Namun, ulama tetap menyarankan pelaksanaan aqiqah jika mampu.

Dasar hukum aqiqah diambil dari beberapa hadits shahih, di antaranya:

“Setiap anak tergadai oleh aqiqahnya, disembelihkan baginya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” — (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hadits ini menjadi dasar bahwa aqiqah memiliki waktu yang dianjurkan, yaitu hari ketujuh setelah kelahiran. Namun, bagaimana jika tidak dilaksanakan pada waktu tersebut? Apakah aqiqah dapat dilakukan setelah anak dewasa?

3. Bolehkah Aqiqah Anak Dewasa? Penjelasan Lengkap

Dalam hal ini, para ulama memiliki pendapat berbeda. Perbedaan ini wajar karena tidak terdapat dalil tegas yang menjelaskan larangan ataupun anjuran melakukan aqiqah setelah dewasa. Berikut rangkuman pendapat ulama:

3.1. Pendapat Ulama yang Membolehkan

Sebagian ulama dari mazhab Syafi’i dan Hanbali menyatakan aqiqah boleh dilakukan setelah anak dewasa. Alasannya, hukum aqiqah adalah sunnah, dan ketiadaan pelaksanaan pada hari ketujuh tidak menghapus keutamaan ibadah ini jika dilakukan di kemudian hari.

Pendapat ini didukung oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang mengikuti mazhab Syafi’i. Artinya, jika orang tua baru mampu ketika anak sudah dewasa, maka aqiqah tetap sah dan boleh dilakukan.

Bahkan, beberapa ulama menilai bahwa lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, selama niatnya tulus dan dilakukan sesuai syariat.

3.2. Pendapat yang Mengatakan Tidak Perlu

Sebagian ulama lain, seperti pendapat dalam mazhab Maliki, mengatakan bahwa aqiqah tidak perlu dilakukan setelah anak dewasa. Mereka berpendapat bahwa waktu aqiqah adalah tetap saat anak masih kecil, dan jika lewat, maka gugur.

Namun, pendapat ini bersifat ijtihadiyah dan tidak menjadi pegangan mayoritas umat Islam di Indonesia.

3.3. Kesimpulan Pendapat Terkuat

Kesimpulan yang banyak dipakai masyarakat adalah: Aqiqah anak dewasa hukumnya boleh dan sah jika orang tua atau anak itu sendiri ingin melaksanakannya.

Dengan demikian, aqiqah tetap merupakan ibadah sunnah yang terbuka untuk dilakukan kapan pun jika belum sempat dikerjakan di masa kecil.

4. Siapa yang Berhak Melaksanakan Aqiqah Anak Dewasa?

Ada dua opsi pelaksanaan aqiqah ketika anak sudah dewasa:

  1. Orang tua melakukan aqiqah untuk anak dewasa.
  2. Anak melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri.

Keduanya dibolehkan menurut mayoritas ulama, terutama dalam mazhab Syafi’i dan Hanbali.

4.1. Aqiqah Dilakukan oleh Orang Tua

Jika orang tua baru mampu secara finansial ketika anak sudah dewasa, maka mereka boleh mengaqiqahi anaknya. Hal ini merupakan bentuk penyempurnaan sunnah yang tertunda. Tidak ada batasan usia dalam hal ini; bahkan meski anak sudah menikah, aqiqah tetap sah dilakukan oleh orang tua.

4.2. Anak Dewasa yang Mengaqiqahi Dirinya Sendiri

Beberapa ulama menyatakan anak dewasa boleh mengaqiqahi dirinya sendiri. Hal ini pernah dicontohkan oleh sebagian sahabat Nabi, meskipun riwayatnya diperdebatkan tingkat kesahihannya. Namun, mayoritas ulama tetap memperbolehkan sebagai bentuk ibadah sunnah.

Prinsipnya adalah: selama ada niat dan kemampuan, maka ibadah sunnah seperti aqiqah boleh dilakukan kapan saja.

5. Tata Cara Aqiqah bagi Anak yang Sudah Dewasa

Secara umum, tata cara aqiqah tidak berbeda antara anak kecil dengan anak yang sudah dewasa. Berikut langkah-langkahnya:

5.1. Menentukan Jumlah Hewan

Jumlah hewan aqiqah adalah:

  • 2 ekor kambing/domba untuk anak laki-laki
  • 1 ekor kambing/domba untuk anak perempuan

Namun jika kondisi ekonomi terbatas, maka 1 ekor untuk laki-laki juga dibolehkan oleh sebagian ulama, meski yang paling utama adalah dua ekor.

5.2. Niat Aqiqah

Niat cukup diucapkan dalam hati oleh orang yang melaksanakan aqiqah, baik orang tua maupun anak yang mengaqiqahi dirinya sendiri. Tidak ada lafadz khusus yang diwajibkan.

5.3. Penyembelihan Hewan

Penyembelihan dilakukan sesuai syariat:

  • dilakukan oleh muslim,
  • mengucap basmalah,
  • menggunakan alat tajam,
  • hewan dalam kondisi sehat dan layak.

Biasanya penyembelihan dilakukan di rumah pemotongan atau jasa penyedia layanan aqiqah seperti Syiar Aqiqoh.

5.4. Memasak dan Mengolah Daging

Tradisi di Indonesia umumnya daging aqiqah dimasak matang sebelum dibagikan. Metode ini lebih praktis dan memudahkan penerima, terutama fakir miskin dan masyarakat sekitar. Anda bisa memilih menu yang sesuai selera, misalnya sate, gulai, semur, nasi kebuli, atau paket nasi kotak lengkap.

5.5. Membagikan kepada Penerima

Daging aqiqah atau makanan siap santap sebaiknya dibagikan kepada:

  • tetangga,
  • kerabat,
  • fakir miskin,
  • santri, panti asuhan, atau lembaga sosial.

Anak yang diaqiqahi juga boleh makan dari hasil aqiqah tersebut.

6. Keutamaan Melakukan Aqiqah Meski Sudah Dewasa

Meski pelaksanaannya tertunda hingga dewasa, aqiqah tetap memiliki banyak keutamaan, antara lain:

6.1. Menyempurnakan Sunnah Rasulullah

Melaksanakan ibadah sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah merupakan salah satu wujud cinta dan ketaatan kepada beliau. Aqiqah yang dilakukan meski terlambat tetap termasuk ketaatan yang mendatangkan pahala.

6.2. Sebagai Bentuk Syukur kepada Allah

Aqiqah adalah bentuk rasa syukur atas nikmat kelahiran yang diberikan Allah. Mensyukuri nikmat ini, meski sudah bertahun-tahun berlalu, tetap merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan.

6.3. Mendatangkan Barakah

Dengan menyembelih hewan dan membagikan makanan, seseorang telah mendatangkan barakah dalam kehidupan. Banyak keluarga merasakan ketenangan, kelancaran rezeki, serta hubungan sosial yang semakin baik setelah melaksanakan aqiqah.

6.4. Menjalin Kepedulian Sosial

Aqiqah merupakan momen berbagi. Dengan membagikan makanan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat, hubungan sosial semakin kuat dan memperluas keberkahan.

7. Tips Melaksanakan Aqiqah Anak Dewasa

Agar pelaksanaan aqiqah berjalan lancar dan sesuai syariat, berikut beberapa tips yang dapat Anda lakukan:

7.1. Gunakan Layanan Aqiqah Profesional

Seperti Syiar Aqiqoh yang menyediakan paket lengkap mulai dari penyembelihan, pengolahan daging, hingga pengantaran. Ini memudahkan Anda terutama jika tidak ingin repot mengurus proses dari awal.

7.2. Sesuaikan dengan Budget

Tidak perlu memaksakan diri. Pilih paket sesuai kemampuan. Aqiqah adalah bentuk syukur, bukan beban.

7.3. Tentukan Menu yang Disukai

Pilih menu populer seperti sate + gulai, nasi kebuli, nasi kotak lengkap, atau olahan lain yang disukai masyarakat luas.

7.4. Pastikan Dokumentasi

Dokumentasi pemotongan hewan sejak awal penting sebagai bukti pelaksanaan aqiqah secara syar’i. Layanan seperti Syiar Aqiqoh biasanya menyediakan dokumentasi lengkap, mulai foto, video, hingga laporan penyembelihan.

7.5. Berdoa dan Niat yang Benar

Perkuat niat karena Allah dan mohon agar aqiqah ini membawa keberkahan bagi diri sendiri maupun keluarga.

8. Penutup

Aqiqah anak dewasa adalah amalan yang sah, boleh, dan tetap bernilai pahala. Meskipun idealnya dilakukan ketika anak masih bayi, Islam memberikan kelonggaran bagi orang tua atau anak itu sendiri yang baru mampu mengerjakannya di kemudian hari.

Yang terpenting adalah niat tulus dan pelaksanaan yang sesuai dengan tuntunan syariat. Jika Anda ingin melaksanakan aqiqah dengan mudah dan praktis, Anda dapat memilih layanan profesional agar seluruh proses berjalan lancar.

Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan pemahaman yang lebih jelas bagi siapa pun yang ingin melaksanakan aqiqah meski terlambat hingga dewasa.

Lebih baru Lebih lama